Derby d’Italia selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda, bahkan ketika dimainkan di luar Italia. Kali ini, Juventus dan Inter Milan membawa rivalitas panjang mereka ke Optus Stadium, Perth, dalam laga club friendly yang menjadi salah satu pertandingan paling dinantikan menjelang bergulirnya Serie A 2026/2027.
Bukan sekadar pertandingan persahabatan, duel ini menjadi ajang pembuktian kekuatan dua raksasa sepak bola Italia yang sama-sama belum terkalahkan sepanjang pramusim. Di balik gengsi besar tersebut, SBOTOP mengungkap terdapat sejumlah cerita menarik, mulai dari kebangkitan Edon Zhegrova bersama Juventus hingga ancaman absennya bek andalan Inter Milan, Yann Bisseck.
Derby d’Italia Hadir di Australia
Pertemuan Juventus dan Inter Milan selalu menjadi salah satu laga terbesar dalam kalender sepak bola Italia. Rivalitas yang telah berlangsung lebih dari satu abad kini mendapat panggung baru di Australia, memberikan kesempatan bagi para penggemar sepak bola di Perth untuk menyaksikan langsung duel dua klub tersukses dalam sejarah Serie A.
Bagi kedua tim, pertandingan ini bukan hanya soal hasil akhir. Laga tersebut menjadi bagian penting dari persiapan menuju musim kompetisi baru yang akan segera dimulai. Intensitas pertandingan diperkirakan tetap tinggi karena baik Juventus maupun Inter Milan ingin menjaga momentum positif yang telah dibangun selama pramusim.
Inter Milan datang ke pertandingan ini setelah bermain imbang 1-1 melawan AC Milan dalam laga bertajuk Derby della Madonnina. Sementara itu, Juventus berhasil meraih kemenangan tipis 1-0 atas Chelsea melalui penampilan yang cukup solid di kedua sisi lapangan. Dengan kualitas skuad yang dimiliki masing-masing tim, pertandingan di Perth diperkirakan berlangsung sengit meski berstatus laga persahabatan.
Juventus Menunjukkan Perkembangan Positif
Juventus memasuki musim baru dengan optimisme tinggi setelah memperlihatkan peningkatan performa sepanjang pramusim. Kemenangan atas Chelsea menjadi salah satu indikator bahwa proses adaptasi para pemain baru mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Sorotan terbesar tertuju kepada Edon Zhegrova. Winger asal Kosovo tersebut akhirnya mengakhiri penantian panjang untuk kembali mencetak gol. Setelah menjalani musim yang sulit sejak bergabung dari Lille dan gagal memberikan kontribusi gol di Serie A musim lalu, gol indahnya ke gawang Chelsea menjadi suntikan kepercayaan diri yang sangat berharga.
Gol tersebut lahir melalui kerja sama apik bersama Kenan Yildiz sebelum Zhegrova melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang gagal dijangkau penjaga gawang lawan. Momen itu menjadi salah satu tanda bahwa Juventus memiliki lebih banyak opsi dalam membangun serangan musim ini.
Selain Zhegrova, Jeremie Boga juga menunjukkan potensi besar lewat sejumlah pergerakan berbahaya di sisi sayap. Kecepatan serta kemampuan dribelnya beberapa kali merepotkan lini pertahanan Chelsea.
Lini Belakang Juventus Semakin Kokoh
Keberhasilan Juventus mengalahkan Chelsea tidak hanya ditentukan oleh efektivitas lini depan, tetapi juga oleh solidnya organisasi pertahanan. Tim asuhan Luciano Spalletti berhasil mencatatkan clean sheet keempat secara beruntun sepanjang pramusim.
Kombinasi Zeki Celik, Lloyd Kelly, Pierre Kalulu, dan Andrea Cambiaso terlihat semakin kompak dalam menjaga keseimbangan permainan. Kehadiran Celik yang direkrut secara bebas transfer memberikan tambahan pengalaman, sementara Cambiaso kembali tampil aktif membantu serangan melalui overlap dari sisi kiri.
Meski demikian, masih terdapat beberapa pemain yang belum mencapai performa terbaiknya. Arkadiusz Milik, Douglas Luiz, serta Jonathan David dinilai masih membutuhkan waktu untuk meningkatkan kondisi fisik maupun ritme permainan agar siap menghadapi kompetisi resmi.
Di sisi lain, Juventus juga berpotensi memberikan kesempatan debut kepada Randal Kolo Muani dan Kerim Alajbegovic yang baru bergabung bersama skuad dalam beberapa hari terakhir. Kehadiran mereka diperkirakan akan menambah variasi taktik sekaligus memperkuat kedalaman tim.
Kenan Yildiz Tetap Jadi Andalan
Di balik kontribusinya dalam kemenangan atas Chelsea, Kenan Yildiz ternyata masih berjuang menghadapi masalah pada lutut yang telah mengganggunya selama beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat staf pelatih berencana mengatur menit bermain sang pemain secara lebih hati-hati.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat Yildiz merupakan salah satu talenta muda paling menjanjikan dalam skuad Juventus. Kreativitas, visi bermain, serta kemampuannya membuka ruang menjadi elemen penting dalam pola permainan tim. Jika kondisinya tetap terjaga, Yildiz diperkirakan akan menjadi salah satu pemain kunci saat Juventus memulai perjalanan mereka di Serie A musim 2026-2027.
Inter Milan Kehilangan Pilar Pertahanan

Di kubu Inter Milan, fokus utama justru tertuju pada kondisi Yann Bisseck. Bek asal Jerman tersebut mengalami benturan keras di kepala saat menghadapi AC Milan sehingga harus menjalani prosedur pemantauan gegar otak.
Meski laporan awal menunjukkan cedera tersebut tidak terlalu serius, peluang Bisseck untuk tampil melawan Juventus tetap belum pasti. Kehilangannya tentu menjadi kerugian besar mengingat perannya yang sangat penting sepanjang musim lalu.
Bisseck menjadi salah satu sosok yang berkontribusi besar dalam keberhasilan Inter Milan mempertahankan gelar Serie A. Selain tampil konsisten di lini belakang, ia juga mampu memberikan kontribusi ofensif melalui tiga gol dan dua assist dari berbagai kompetisi. Absennya pemain berusia 25 tahun itu dapat memaksa Cristian Chivu melakukan perubahan komposisi lini belakang, sesuatu yang tentu ingin dihindari menjelang dimulainya musim kompetisi.
Inter Tetap Memiliki Banyak Ancaman
Meski dibayangi persoalan cedera, Inter Milan tetap memiliki kualitas yang membuat mereka layak difavoritkan di setiap pertandingan. Dalam laga melawan AC Milan, Federico Dimarco kembali memperlihatkan kontribusinya sebagai salah satu bek sayap terbaik Italia.
Gol yang dicetak Dimarco memperlihatkan efektivitas kerja sama dengan Nicolo Barella yang menjadi motor permainan di lini tengah. Meski akhirnya hanya mampu bermain imbang setelah lawan menyamakan kedudukan melalui titik penalti, Inter tetap menunjukkan karakter permainan menyerang yang menjadi ciri khas mereka.
Carlos Augusto bahkan hampir membawa kemenangan pada menit-menit akhir melalui situasi bola mati. Hal tersebut menunjukkan bahwa Inter memiliki banyak alternatif untuk menciptakan peluang, baik melalui permainan terbuka maupun skema bola mati. Dengan kedalaman skuad yang dimiliki, Inter tetap menjadi lawan yang sangat berbahaya bagi Juventus meskipun kemungkinan kehilangan salah satu bek utamanya.
Rivalitas Bersejarah yang Tak Pernah Kehilangan Gengsi
Derby d’Italia merupakan salah satu rivalitas paling ikonik dalam dunia sepak bola. Pertemuan pertama kedua klub berlangsung pada November 1909 dan sejak saat itu Juventus serta Inter Milan telah berkali-kali terlibat dalam pertandingan penuh gengsi.
Hingga kini, kedua tim telah bertemu sebanyak 269 kali di berbagai ajang. Juventus masih unggul secara keseluruhan dengan 118 kemenangan, sementara Inter Milan mengoleksi 84 kemenangan dan sisanya berakhir imbang. Meski Juventus masih memimpin rekor pertemuan, dominasi Inter dalam beberapa musim terakhir tidak bisa diabaikan. Klub asal Milan tersebut berhasil meraih tiga gelar Serie A dalam enam musim terakhir, termasuk menjadi juara bertahan menjelang musim 2026/2027. Sebaliknya, Juventus masih berusaha mengakhiri penantian panjang untuk kembali menguasai kompetisi domestik sejak terakhir kali meraih Scudetto pada musim 2019/2020.
●●●
Kunjungi halaman blog kami untuk membaca berita SEPAK BOLA dan informasi pasaran taruhan
Selalu menjadi yang terdepan dalam mendapatkan informasi seputar olahraga dan bursa taruhan



